Rekam Tapak Sejarah Suku Hubula di Desa Obia

Aura kegagahan kaum pria bak tangguhnya sang Jayawijaya dan kecantikan eksotis kaum wanita bak alam yang merepresentasikan daratan surga dalam balut kemewahan kultur suku Hubula dapat anda temui di Desa Obia, salah satu desa wisata yang menjadi destinasi buruan para pelancong jika bertandang ke wilayah pegunungan tengah Papua.

desa-obia-1

Seperti yang diungkapkan oleh Stebby Julionatan; Sejarah manusia adalah sejarah sepatu. Sejarah tentang tempat dimana ia pernah berpijak dan menjejak. Maka alangkah bijaksananya jika anda menyentuh kulit sejarah suku Hubula terlebih dahulu sebelum berpijak di bawah gagahnya bumi Jayawijaya.

desa-obia-2

Jika kita berbicara lebih spesifik akan asal-muasal Suku Hubula atau yang biasa dikenal dengan suku Dani ini, sesungguhnya mereka berasal dari garis darah sepasang suami istri penghuni danau di selatan Lembah Baliem yang berada di sekitar kampung Maima. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepasang karunia berupa anak yang mereka beri nama Woita dan Waro. Maka lahirlah aturan perkawinan yang melarang pernikahan dengan kerabat suku Moety. Sehingga prinsip perkawinan yang dipegang teguh oleh suku Hubula ini adalah prinsip pernikahan eksogami.

desa-obia-3

Beranak-cuculah mereka sebagai kesatuan dalam suku Hubula yang dikenal sebagai petani terampil dengan dibekali perkakas dari alam sebagai medium untuk bertani seperti kapak batu, tulang hewan yang dimanfaatkan sebagai pisau, hingga tombak yang berasal dari kayu galian bertekstur padat, kuat dan juga berat.

desa-obia-4

Hingga akhirnya Lembah Baliem yang terisolasi pertama kali ditemukan oleh Richard Archbold yang merupakan pakar ilmu hewan dan filantropis asal Amerika Serikat pada tanggal 23 Juni 1938 saat melakukan penerbangan di atas lembah Baliem menggunakan pesawat terbang PBY Catalina 2 bernama Guba II dalam ekspedisi ketiganya untuk menggali ilmu hayat ke New-Guinea.

desa-obia-5

Suku Hubula pun akhirnya diperkenalkan kepada dunia luas. Namun, tak hanya mereka yang diperkenalkan. Tapi, mereka pun dengan terbuka memperkenalkan budaya dan adat-istiadat yang begitu unik dan sakral. Dimulai dari cara berkomunikasi yang terdiri dari tiga sub keluarga bahasa yaitu sub keluarga Hubula Pusat yang terdiri atas logat Hubula Barat dan logat lembah besar Dugawa, sub keluarga Wano di Bokondini, serta sub keluarga Nggalik dan Ndash yang merupakan bagian dari keluarga bahasa Melansia dan bahasa Papua tengah secara umum. Sedangkan konsep kepercayaan yang dipegang teguh adalah Atou, yaitu kekuatan sakti para nenek moyang yang diturunkan secara patrilineal atau diturunkan kepada anak laki-laki meskipun kini mereka telah menganut agama Katolik dan Islam.

desa-obia-6

Budaya dan tradisi yang begitu unik pun mereka perkenalkan kepada orang-orang yang menyambangi Lembah Baliem sepertiatraksi perang-perangan yang telah menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Lembah Baliem, upacara Bakar Batu, penggunaanKoteka yang berasal buah Labu untuk kaum pria dan Sali untuk kaum Wanita, tempat tinggal bernama Honai, serta peninggalan sejarah berupa Mumi para leluhur, dan masih banyak lagi yang hingga akhirnya, dibentuklah Festival Budaya Lembah Baliem pada tahun 1989 sebagai wadah terorganisir untuk memperkenalkan berbagai warisan budaya, keindahan alam Jayawijaya, hingga potensi ekonomi kreatif demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lembah Baliem. Festival yang diselenggarakan setiap tahun ini pun akhirnya menggaung ke berbagai Benua dan menjadi festival buruan para wisatawan dan fotografer lokal maupun mancanegara.

desa-obia-7

desa-obia-8

Desa Obia adalah salah satu tempat yang masih begitu ‘perawan’ akan eksotisme budaya yang dipelihara masyarakat suku Hubula. Ditandai dengan Honai-honai yang masih berdiri tegak, teknik memasak dengan bakar batu yang masih terus dipertahankan, Koteka yang masih terus digunakan walaupun hanya pada saat perayaan-perayaan dan upacara tertentu. Dalam kesehariannya, mereka telah berpakaian layaknya orang di perkotaan. Nilai adat dan budaya masih terus mereka jaga hingga detik ini. Itulah yang menjadikan desa Obia menjadi begitu menarik untuk dikunjungi sebagai desa wisata di pegunungan tengah Papua.

desa-obia-9

Festival Budaya Lembah Baliem adalah momen yang sangat tepat untuk menyaksikan dan mengenal lebih dalam akan warisan budaya yang menjadi jejak peradaban masyarakat pegunungan tengah Papua. Tahun ini, FBLB akan digelar pada tanggal 08-10 Agustus 2016 di Distrik Walesi, dan dilanjutkan dengan Karnaval Budaya pada tanggal 11 Agustus 2016 di kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Tahun ini pun, FBLB tidak memungut biaya apapun untuk para wisatawan yang ingin masuk ke dalam arena festival selama pagelaran ini berlangsung. Untuk segala informasi lengkap tentang akses menuju festival ini, silakan klik link Transportasi dan Akomodasi.

Photo credit : dailymail.co.uk / @gettyimages

*Artikel ini telah dimuat di Official Website FBLB 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s