Kopi Tiwus, Kedai Filosofi Kopi, dan Kami yang Pulang

“Ini kopi paling enak yang baru pernah beta minum seumur hidup!” kata itu keluar begitu saja ketika satu seruput kopi Tiwus mengenai lidah saya yang sudah sekian lama terjebak kenikmatan kopi Gayo dan Toraja yang itu-itu saja. Di hadapan saya, duduk seorang sahabat lama yang itu-itu saja.

Gaji yang belum sudi datang akibat rekening saya yang sedang bermasalah menjadikan beberapa hari di awal bulan Juli ini, menjadi puasa siang malam bagi saya. Siang menahan lapar dan haus, malam menahan sakau ngopi. Satu malam sebelum malam Idul Fitri, akhirnya saya sudah tak bisa lagi banyak berfikir tanpa suplai kopi. Kegalauan akibat tertinggal di tanah rantau saat lebaran nanti, pun ingin saya usir pelan-pelan. Dengan sisa uang yang ada, saya mengajak sahabat yang kalau mau dibilang, sudah lama tak banyak bertukar fikiran dengan saya dan saya tahu, ia sedang banyak menyimpan resah. Satu-satunya tempat untuk orgasme otak dan hatinya adalah saya. saya tahu itu. Tak tanggung, pembalasan dendam puasa ngopi bagi saya dan puasa curhat bagi sahabat saya ini kami lampiaskan ke kedai kopi yang cukup jauh dari Depok, hanya untuk meminum secangkir kopi yang harganya dua kali lipat dari kopi yang biasa saya minum di kedai seberang kosan.

Jakarta yang kalau dilihat dari Google Map, terdominasi oleh garis-garis hijau di segala rute sebagai pertanda lengangnya jalanan akibat banyak dari warga yang mudik, masih saja membuat kami tak cukup cepat sampai di Kedai Filosofi Kopi yang terletak di jalan Melawai, kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Nyasar dulu. Ini pertama kalinya kami main ke kedai Filosofi Kopi yang menggaung akibat cerita fiksi Dee Lestari dalam cerpennya, serta film karya Angga Sasongko yang direalisasikan menjadi sebuah kedai kopi, tempat ngumpulnya anak-anak muda dari industri kreatif di Jakarta. Begitu kabarnya.

majalah.ottencoffee.co.id

Di depan pintu, kami sudah difasilitasi dengan tulisan “No Wifi”. Kenapa saya bilang difasilitasi? Karena jika tak ada wifi, obrolan kami bisa lebih mendalam untuk apa-apa yang saya tahu akan banyak cerita yang terlontar malam itu. Kedekatan dan obrolan kami sebagai dua orang sahabat, terfasilitasi dengan baik, tanpa menjadi boneka dunia maya yang sebentar semenit, mengecek notifikasi di ponsel.

Saya langsung memesan dua cangkir Tiwus dalam sajian manual V60. Ini pertama kalinya saya mencoba Tiwus yang kalau kata Julie Estelle alias El di film Filosoi Kopi, ini kopi terenak yang dia minum. “Ah cuma film. Cuma drama.” Tak sampai lima belas menit, dua cangkir kopi Tiwus menguap di depan saya. kami memilih untuk ngopi di bagian luar kedai demi batang-batang kretek. Eh, saya kena batunya. Ternyata saya pun mengeluarkan kata-kata yang sama persis. Bedanya, saya menggunakan logat Maluku seperti kalimat pertama di atas. Saya akhirnya menyimpulkan bahwa Julie Estelle itu wanita jujur dengan segala keanggunannya. No tipu-tipu. Ini memang kopi paling enak seumur saya nyobain kopi sana sini. Kedai-kedai kopi di Selatan, Timur, Barat Jakarta dan Depok telah banyak saya datangi. Kopi Gayo, Toraja, Flores, Bali Kintamani, dan masih banyak lagi, sudah saya icip-icip. Semuanya nikmat. Tapi yang satu ini, nikmat luar biasa!

Kopi nikmat memang selalu merajai obrolan lepas tentang apa saja. Ketertinggalan kami di Jakarta saat yang lainnya bergegas mudik, menjadi obrolan bagian pertama malam itu. Jika yang lain mungkin memurungkan diri saat tak mudik ke kampung halaman saat lebaran, maka kami mencoba untuk mensyukurinya berdasar hal-hal kecil yang kami alami dalam satu malam itu. Pertemuan kami dengan seorang ibu muda dan anak kecilnya yang sedang duduk di trotoar jalan sambil berbagi satu potong biskuit untuk dimakan. Tidakkah kami bersyukur, masih bisa menikmati cangkir-cangkir kopi Tiwus? Tidakkah kami bersyukur masih bisa menyendok sop buah saat berbuka puasa tadi? Tidakkah kami bersyukur atas apa-apa yang masih menjadi nikmat beruntun setiap saat, lalu mengutuk diri hanya karena tak bisa pulang ke rumah di Maluku saat lebaran? Terlalu banyak kenikmatan yang mendominasi.

Saat ini kami memang sedang tertinggal di Jakarta. Namun, di sisi lain, kami berdua sebagai sahabat sedang pulang. Berpulang pada obrolan-obrolan lama yang masih selalu hangat untuk ditertawai. Hingga akhirnya kami tiba pada keresahan sahabat saya ini yang sudah cukup lama ditabung. Keluar begitu saja tanpa jeda. Tak banyak solusi yang saya pasok. Namun, saya tahu bahwa beberapa ruang di rongga penampung stressnya sudah kosong dan terlepas ke langit-langit Melawai malam itu bersama kepulan dari cangkir kopi dan asap rokok.

Kami tertinggal namun kami pulang berkat dua cangkir kopi Tiwus. Sahabat saya pun akhirnya pulang pada rasa plongnya dengan modal tabungan resah yang dihamburkan sesaat lalu.

Seperti Filosofi dari kopi Tiwus dalam Cerpen Dee Lestari; “Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah bagini adanya.”

Akhirnya saya pun mengerti.

Makna pulang yang sesungguhnya bukan ada pada perpindahan angka jarak yang kita tempuh.
Namun, pada memori-memori lama yang tetap menghangat dan tertata rapi di etalase ingatan, tanpa tuntutan dimensi ruang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s