Kei Islands; Our Hidden Paradise (Part 1)

Hari itu di akhir Juli lalu, dingin Subuh kota Depok menghantarkan saya menyisir jalanan kota Jakarta menuju Bandara Halim Perdana Kusuma menggunakan jasa taxi online. Penerbangan subuh itu akan membawa saya menuju kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Ya! Saya pulang ke kampung halaman. Tapi, coba Tanya ke setiap perantau yang berasal dari kepulauan Kei ketika mereka pulang, pasti serasa lagi menuju destinasi wisata andalan. Serius! Kok bisa? Baca sampai selesai.

Kepenatan saya yang hampir setiap hari harus menelan asap polusi di Jakarta saat pagi dan sore ketika pergi dan pulang dari kantor, membuat cuti panjang (Agustus-November) sebelum lanjut kontrak kerja kali ini serasa perjalanan pulang kampung yang over excited. Kangen pantai, kangen laut, kangen surga!

Lelah Perjalanan lebih-kurang 5 jam dari Jakarta menuju kepulauan Kei, seketika terasa seperti lepas dari sekujur tubuh saat pesawat yang saya tumpangi melayang di atas kepulauan Kei yang belum lama ini menjadi cukup viral di kalangan tukang jalan-jalan karena berhasil menyabet juara satu dalam Anugerah Pesona Indonesia 2016 sebagai surga tersembunyi terpopuler di Indonesia. Bagaimana tak disebut sebagai surga tersembunyi terpopuler? Pemandangan dari jendela pesawat saja, melahirkan decak kagum dan sesi geleng-geleng kepala yang tak akan terhindarkan. Yang terlihat adalah gugusan pulau-pulau indah dengan bentuk-bentuk yang lumayan unik. Ada pulau yang berbentuk Dinosaurus, bentuk pulau dengan bulatan sempurna, hingga pulau yang di salah satu sisinya terhampar pasir mengular panjang berwarna putih.

Tiba di siang hari dan keesokan harinya saya langsung cari si target utama. Pantai!
Ketika beberapa minggu lalu saya dan beberapa teman ditanya oleh Alexander Thian a.k.a Amrazing; pantai mana yang jadi favorit kita masing-masing, dengan sigap saya menjawab; NGURBLOAT! Iya. Ini pantai favorit saya, dan ini pantai yang paling pertama saya kunjungi di liburan kali ini (dan liburan-liburan sebelumnya). Setiap pulang kampung, Ngurbloat selalu menjadi destinasi utama saya. apa yang menjadikan saya seperti menggilai pantai ini? jawabannya simple; pantai ini wujud kesempurnaan dari surga dunia yang tengah populer. Bagaimana tidak? Di pantai ini, kamu bisa ketemu sama pasir paling halus di Asia, broh! Pasir bertekstur bedak bayi! View Sunset? Beh! pecah! Berburu Milkyway? Ini spot andalan saya dan teman-teman komunitas Kaki Bajalang untuk mengambil gambar Milkyway. Kuliner ringan yang dijajalkan penduduk setempat yang berjualan di area pantai menambah kesempurnaan tempat ini. Pisang goreng enbal dan sukun goreng yang dicelupkan ke saos berisi cumi dan kerang, lalu dimakan bersamaan dengan potongan-potongan kecil kerang dan cumi yang lembut, ditutup dengan tenggorokan yang diguyur hangatnya kopi hitam sambil nikmatin matahari yang lagi menggelinding bak tenggelam ke dalam laut lepas. Nikmatnya? sampai ubun-ubun! Perjalanan dari Langgur yang merupakan pusat ibukota kabupaten Maluku Tenggara menuju pantai Ngurbloat atau yang tenar dengan nama pantai pasir panjang yang terletak di desa Ngilngof ini hanya memakan sekitar 30 menit dengan kondisi jalan yang sangat baik. Biaya masuk ke pantai ini pun hanya Rp 10.000 untuk kendaraan roda dua. Sampai saat ini, minimal satu hari dalam seminggu, saya sempatkan untuk datang ke pantai ini. dan bukan saat Weekend. Saya merasa lebih menikmati pantai ini saat weekday ketika pantai ini sedang melankolis-melankolisnya. Berikut beberapa foto untuk kalian yang penasaran sama pantai Ngurbloat.

13774893_1636318100017890_1592126890_n

14711966_589026987967030_3655726435500294144_n

13743575_1120115131396835_689333841_n

13712648_271557783218160_1679593239_n

14533657_267601380307297_3460404624391929856_n

14718264_349760802035549_6388866193280729088_n

14714490_321830454864251_1168722779483144192_n

14701057_815785275191114_6708105601949368320_n

Beberapa hari lalu, saya sengaja meninggalkan gadget di rumah agar tak ada sesi foto-foto pantai dan sunset. Saya hanya ingin menikmati sunset di sore itu dengan khidmat. Dan batin saya cukup kenyang.

Tak jauh dari pantai ini pun, ada pantai dengan warna air yang biru jernih. Seperti langit yang digandakan dan diletakkan di bawah langit induknya. Pantai ini bernama Ngursarnadan yang terletak di desa Ohoililir. Hanya butuh sekitar 10-15 menit dari pantai Ngurbloat menuju pantai Ngursarnadan. Indahnya tak kalah dari pantai Ngurbloat.

14596665_193556464381439_1516520516624580608_n

14596792_1328565707193556_1474708516076781568_n

Beberapa hari berikutnya setelah menyambangi pantai Ngurbloat, saya dan beberapa teman alumni SMA mendatangi salah satu destinasi Wisata Religi umat Kristiani yang ditandai dengan hadirnya patung Kristus raja. Letaknya di sebuah bukit bernama Masbait. Pemandangan dari atas bukit ini yang membuat saya penasaran. Ini pertama kalinya saya ke tempat ini.

Ayat-ayat Alkitab yang berkisah tentang penyaliban Yesus Kristus di atas bukit Golgota, telah menjadi inspirasi dalam pembuatan patung pada tahun 1989 di bukit Masbait ini.

Kamu tak harus jauh-jauh ke Rio de Janeiro untuk menyaksikan patung Yesus Kristus yang dibangun  atas usulan Keuskupan Agung Katolik Roma Rio de Janeiro Pada tahun 1921 di puncak Gunung Corcovado tersebut.

Selain patung Yesus yang menyandang rekor MURI karena merupakan patung tertinggi di Asia yang berlokasi di Tana Toraja, Kamu pun bisa menemukan patung Yesus yang sarat akan kisah perjalanannya menuju tiang salib serta kisah para leluhur desa setempat yang begitu menarik di kepulauan Kei, Maluku Tenggara.

Tempat yang sempurna untuk menyaksikan matahari terbit maupun terbenam dengan landscape pulau-pulau kecil yang terbentang di sekelilingnya ditemani laut berwarna aquamarine ini, memiliki empat belas patung di sepanjang tapak menuju bukit yang mengisahkan kembali masa penderitaan Yesus hingga berakhir di puncak penyaliban pada awal Masehi tersebut. Sebelum tiba di puncak bukit, kami disuguhkan dengan gua yang berada di salah satu sisi menuju bukit. Konon, gua ini dihuni oleh seekor naga sehingga kawasan Masbait pun dikeramatkan oleh warga Kelanit yang merupakan warga desa penghuni pintu gerbang menuju bukit Masbait.

Melanjutkan perjalanan menuju puncak, terdapat pula dua bangunan tua berpondasi batu setinggi satu jengkal dari permukaan tanah berselimut lumut. Di sisi lain, terdapat tembok yang berdiri tegak meski atap telah terlihat hancur tak terawat yang menjadi saksi sejarah masa lampau dalam mengisahkan kehidupan moyang para warga desa Kelanit yang pernah hidup bermasyarakat di sekitaran bukit. Nama bukit ini pun diambil dari nama seorang nenek yang konon menjadi penghuni terakhir di bukit ini bernama Masbait. Setelah meninggalnya nenek Masbait, masyarakat adat setempat memberikan penghargaan berupa penamaan bukit tersebut dengan menggunakan nama si nenek. Rumah nenek Masbait pun diubah menjadi tempat peristirahatan terakhirnya yang masih ada hingga detik ini.

Tempat ini akhirnya kondang sebagai lokasi wisata religi bagi warga setempat, bahkan kini mulai didatangi oleh banyak turis domestik yang berasal dari luar daerah dan juga turis mancanegara. Namun, ada segelintir masyarakat lokal yang datang dengan tujuan khusus untuk beribadah, ada yang menyambangi makam nenek Masbait dengan menghantarkan persembahan sembari meminta keberkahan hidup. Ada pun yang datang dan melakukan semedi di gua keramat bekas tempat tinggal sang naga.

Kini kami telah tiba di depan sebuah pagar setinggi perut. Di dalam pagar tersebut, terlihat patung salib yang berdiri tinggi dan tegak. Di sekelilingnya, kami pun disuguhkan dengan patung-patung yang bercerita tentang detik-detik akhir penyiksaan, replika batu kubur, beberapa ornamen malaikat, dan meja altar yang mengisi dataran luas berpagar tersebut.

Kami akhirnya berpindah ke sisi belakang pelataran dan menemukan sesosok patung Kristus Raja. Patung tertinggi di bukit itu berdiri gagah di atas bola bumi dengan membentangkan kedua tangan.

Dari atas sini, lengkungan indah pulau yang setengah memeluk lautan biru terpampang luas. Karya yang Maha sempurna begitu apik!

Untuk tiba di bukit Masbat ini, kita membutuhkan waktu tempuh sekitar 60 menit dengan menggunakan mobil atau motor dari Langgur, ibukota Kabupaten Maluku Tenggara.

Foto-foto di bukit Masbait tak sempat kami abadikan karena baterai gadget maupun kamera kami mati, maka beberapa foto saya ambil dari Instagram dengan mencantumkan akun pemiliknya

Beberapa hari berikutnya, kami melakukan perjalanan  dadakan ke Goa Hawang. Jarak tempuh dari pusat kabupaten Maluku Tenggara hanya sekitar 30 menit. Goa Hawang bukanlah Goa seperti umumnya. Di sini, terdapat air tawar yang tenang dan berwarna biru jernih. Goa ini pun memiliki cerita rakyat yang cukup sakral.

View this post on Instagram

Ade kaka ampa orang 😄

A post shared by Salman Faris Alkatiri (@arisalkatiri) on

Goa Hawang, Pulau Bair, dan kemeriahan Festival Pesona Meti Kei 2016 serta keseruan di balik layar yang berisikan kami para relawan dari Komunitas Kaki Bajalang sebagai tim multimedia akan berlanjut di postingan saya berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s