KULIAH MAHAL TAPI PASSION BIKIN NYASAR

Gua lulusan Sarjana dari jurusan A, tapi hobi gua di bidang Z. Jauh bener! Harus gimana? Memaksakan berkarir di bidang yang sesuai dengan jurusan kuliah atau tunduk patuh pada passion?

Kenapa harus bingung? Padahal kedua-keduanya udah melalui proses pembelajaran kan? Kecuali kuliahnya main-main, maka secara otomatis opsi keilmuan akademik di jurusan tadi gugur. Mentok. Kalau punya passion, kejar! Jangan kasih kendor! Tapi di sini gua mau coba bahas mengenai orang yang punya passion jauh di luar jalur akademik yang ia pelajari.

Harus dipahami dulu, bahwa passion atau hobi adalah hasrat. Sebab ketika dikerjakan, ada nafsu yang terus terbakar untuk menyelesaikan hajat tersebut, dan hobi ini akan terus dikerjakan secara berkelanjutan.

Sedangkan keilmuan di bidang akademik adalah sesuatu yang dipelajari karena berbagai faktor. Bisa karena keinginan pribadi, ikut-ikutan teman, bahkan keinginan (atau paksaan) dari orang tua. Bersyukurlah yang ada pada alasan pertama. Passion adalah keinginan. Jika jurusan kuliah sesuai dengan keinginan, maka sepertinya tulisan ini tidak penting untuk kalian baca. Tulisan ini gua bikin untuk mereka yang sedang dan sering galau antara berkarir sesuai passion atau sesuai jurusan kuliah.

Alasan klasik yang sering dipakai adalah, bidang pada passion sering tidak memberi pendapatan yang besar. Ini kerap berbanding terbalik dengan pekerjaan yang sesuai dengan keilmuan akademik. Sedangkan kita lebih bahagia ketika bekerja sesuai passion. Nyaman (hati-hati jebakan), kurang tekanan batin, dan bikin good mood.

Di sini gua akan ngasih 2 saran opsi. Komparasi (self innovation), atau terjun ke passion baru (jangan takut).

Oke. Gua pernah ada di posisi kegalauan ini. Antara kerja di Bank BUMN yang udah nerima gua atau tetap menikmati pekerjaan gua sebagai penulis. Kerja di Bank, apalagi BUMN, maka kemapanan terjamin, hari tua tinggal leyeh-leyeh. Tapi sayangnya gua nggak mau jalanin hidup yang sekedar menghabiskan waktu di belakang meja teller atau back office untuk ngitung duit.

Yang kerja di bank, jangan tersinggung, yes. Tanpa mendiskreditkan siapa pun yang bekerja di perbankan atau perusahaan tertentu dan pemerintahan, ini adalah sebuah tulisan tentang gua dan siapa saja yang menyatakan sikap bebas untuk memilih nilai hidup. Tergantung standar dan definisi kebahagiaan masing-masing. Gua memilih untuk bekerja sambil ngasih dampak positif yang nggak receh untuk orang lain. Kalau memang passion kalian di dunia perbankan, nikmatilah. Kalian berada di tempat yang tepat. Yang sesuai dengan naluri karir kalian.

Kalau mikir nyaman dan duit doang, udah gua terima tuh penawaran gaji, bonus, dan tunjangan dalam surat kontrak di perbankan itu. Tapi gua berpegang pada satu petuah cadas Buya Hamka; “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.”

Gua menolak bekerja di perbankan bukan karena gua salah jurusan waktu kuliah sehingga bego mengenai Ekonomi. Salah satu faktanya, gua pernah menulis artikel tentang finance dengan menarik ribuan pembaca. Di media ternama pula. (https://business.idntimes.com/…/6-cara-agar-tetap-sehat-fin…)

Hanya saja, duduk statis di belakang meja teller bukan opsi terbaik dalam hidup yang pengen gua ambil. Otak keburu dingin. Ide keburu kaku. Sedangkan gua pengen bikin banyak hal yang punya impact, melalui ilmu akademik yang gua pelajari di kampus dulu, dan tentunya dengan passion menulis yang bikin gua selalu bergairah ketika jari-jari mulai menekan tuts-tuts di papan ketik laptop.

Nggak munafik, gua juga manusia yang nggak mau bunuh diri dengan idealisme yang mencekik realita. Hidup butuh makan, pakaian, tempat tinggal, jalan-jalan, dan nafsu-nafsu konsumtif lainnya. Saat ngelamar cewek juga mau banggain apa nanti di hadapan mertua? Modal link artikel? Yakali! Orang tua sakit, mau bantu bayar biaya rumah sakit pake apa nanti? Portofolio? Bisa-bisa ditabok suster pake tabung oksigen rumah sakit!

Dari sinilah gua mulai memutar otak bagaimana caranya menggabungkan (komparasi) antara skill marketing yang gua dapet waktu kuliah, dengan passion gua dalam dunia menulis, tanpa mengesampingkan kebermanfaatan diri.

Voila! Gua mulai terjun ke dunia digital marketing! Dalam hal ini, skill cuap-cuap dalam tulisan bisa mendatangkan pundi-pundi fulus untuk kita maupun pihak yang kita iklankan. Bukan hanya itu, banyak hal teknis juga yang gua pelajari.

Dengan mengandalkan kitab digital online bernama google, gua mulai belajar secara otodidak. Dari teknik membuat judul, meriset selera dan psikologi pembaca jaman now, hingga teknik menggunakan tools Search Engine Optimization (SEO).

Mulailah gua bekerja lepas di salah satu penyelenggara festival budaya di Papua sebagai content writer dan social media marketing. Selepas itu, gua mengabdikan diri sebagai relawan dalam festival pesona meti Kei pada akhir tahun 2016 sebagai salah satu penyedia konten untuk menarik minat wisatawan bersama teman-teman komunitas pegiat promosi digital pariwisata setempat. Di awal tahun 2017 hingga saat ini, gua mengurus LENSATIMUR untuk menyebar kabar baik tentang Indonesia timur dan menulis lepas untuk meningkatkan pendapatan UMKM hingga beberapa startup dalam sebuah perusahaan content provider.

Sempat gua sebut di atas bahwa kenyamanan dalam menjalankan passion bisa menjadi jebakan. Gabungin berbagai unsur. Pelajari lagi hal-hal baru. Jangan terjebak pada level hobi itu-itu aja. Perekonomian dunia terus bergerak. Inovasi terus bergejolak dalam berbagai industri. Wajah kita aja terus berinovasi (bocah-dewasa-tua), masa skill dari hobi cuma jalan di tempat? Come on!

Buat kengkawan yang sekiranya udah mentok untuk melakukan komparasi, jangan khawatir. Ada opsi kedua, yaitu terjun ke passion baru. Tapi jangan coba-coba. Hantam! Gagal? Hantam terus! Orang lain bisa masa ente nggak bisa?

Tapi menekuni passion baru ini BUTUH keberanian dan belajar keras! Passion itu memang biasanya keterampilan bawaan dari jaman sekolah atau kuliah. Tapi pada umur di atas 23 tahun, rasanya patah kemudi ubah haluan passion untuk berkarir itu terasa agak berat dan melelahkan.

Hei! Kalau ngerasa berat, yaudah jangan teriak-teriak mau ikuti naluri untuk berkarir sesuai passion. Komparasi nggak bisa, coba passion baru juga nggak bisa. Cari kerja yang nyaman aja kalo gitu. Kayak kata band Armada; Asalkan kau bahagia.

Ketika bikin LENSATIMUR, desainer grafis cuma ada 1 orang di dalam tim. Mau nggak mau, gua juga harus turun tangan agar produksi konten bisa lebih maksimal. Karena isi artikel, bahkan konten sosial media harus menarik secara visual, gua pun mendalami dunia desain grafis. Bukan cuma bikin desain poster biasa, gua sok-sokan belajar bikin infografik. Eh ternyata hasilnya hacep, dude! (https://lensatimur.com/…/tour-de-moluccas-2017-balap-seped…/)

Bukan berarti lu udah punya passion di bidang A, maka ilmu di bidang B bikin lu alergi buat belajar. Kali aja kalau punya passion di beberapa bidang, nantinya bisa lu jadiin satu kesatuan yang menjadi mahakarya. Why not? Siapa pun berhak punya masterpiece. Asal mau.

Tapi ingat, jangan lupa fokus. Kebanyakan skill nantinya cuma bisa bikin lu bingung. 2 atau 3 cukuplah. Mana yang lu rasa bisa dimaksimalin dan terus dikembangin, fokus di situ.

Yang mau gua tekanin pada penutup tulisan di saat gabut yang nggak seberapa ini, apapun passion kalian, jangan sampai hanya mentok untuk manfaat pribadi. Di sekitar lu, banyak orang yang membutuhkan skill lu untuk memperbaiki pandangan hidup mereka, memperbaiki taraf ekonomi keluarga mereka, hingga memperbaiki lingkungan sosial masyarakat. Jadilah Nadiem Makarim selanjutnya. Jadilah Achmad Zaky selanjutnya. Jadilah Alfatih Timur selanjutnya. Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s